RW 3 Kotabaru

Sejarah kawasan · 6–7 Oktober 1945

Jejak Sejarah
Serbuan Kotabaru

Menelusuri perjuangan rakyat Yogyakarta dalam mengambil alih kekuasaan dan persenjataan Jepang, serta mengenang para pejuang yang gugur dalam Pertempuran Kotabaru.

Tetenger Serbuan Kotabaru
Tetenger Serbuan Kotabaru

Konteks peristiwa

Pertempuran yang Menandai Peralihan Kekuasaan

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, kekuasaan dan persenjataan militer Jepang di Yogyakarta belum sepenuhnya diserahkan kepada Republik. Ketegangan meningkat ketika upaya pelucutan senjata melalui perundingan tidak mencapai kesepakatan. Pada malam 6 Oktober hingga pagi 7 Oktober 1945, pemuda, Badan Keamanan Rakyat, Polisi Istimewa, dan masyarakat bergerak menghadapi pasukan Jepang di kawasan Kotabaru.

Waktu6–7 Oktober 1945
LokasiKompleks asrama militer Kotabaru
Pejuang gugur21 orang
Tentara Jepang ditawanSekitar 360 orang

Sebelum pertempuran

Yogyakarta Setelah Proklamasi

01

Kekuasaan Belum Sepenuhnya Beralih

Meskipun kemerdekaan Indonesia telah diproklamasikan, pemerintahan militer Jepang di Yogyakarta masih mempertahankan kendali atas sejumlah markas dan persenjataan. Kondisi tersebut menimbulkan ketegangan dengan rakyat dan pemerintahan Republik.

02

Gerakan Pelucutan Senjata

Pada September 1945, pemuda dan Polisi Istimewa mulai melakukan aksi untuk mengambil kembali persenjataan Jepang. Keberhasilan pelucutan senjata di Gayam pada 23 September 1945 memperkuat semangat perjuangan di Yogyakarta.

03

Perundingan yang Gagal

Pada 6 Oktober 1945, Moh. Saleh Bardosono selaku Ketua Umum Komite Nasional Indonesia melakukan perundingan dengan Mayor Otsuka mengenai penyerahan senjata Jepang. Perundingan berlangsung di bangunan yang kini dikenal sebagai Gedung PT Asuransi Jiwasraya, tetapi tidak menghasilkan kesepakatan.

Rangkaian peristiwa

Kronologi Serbuan Kotabaru

Rangkaian peristiwa yang mengantarkan Yogyakarta menuju pengambilalihan kekuasaan dari pihak Jepang.

23 September 1945

Perebutan Senjata di Gayam

Polisi Istimewa dan massa rakyat mengepung markas serta gudang senjata Jepang di Gayam. Keberhasilan aksi tersebut menjadi salah satu pendorong gerakan pelucutan senjata di tempat lain.

6 Oktober 1945

Perundingan Penyerahan Senjata

Moh. Saleh Bardosono melakukan perundingan dengan Mayor Otsuka untuk meminta penyerahan persenjataan Jepang. Perundingan tersebut tidak mencapai kesepakatan.

Malam 6 Oktober 1945

Pengepungan Markas Jepang

Pemuda, BKR, Polisi Istimewa, dan masyarakat mulai berkumpul dan mengepung kompleks markas tentara Jepang di Kotabaru. Ketegangan semakin meningkat menjelang dini hari.

Dini Hari 7 Oktober 1945

Serbuan Kotabaru

Kontak senjata pecah antara para pejuang Indonesia dan pasukan Jepang. Pertempuran berlangsung sengit di sekitar kompleks asrama militer Kotabaru.

7 Oktober 1945 · Sekitar 10.30

Pasukan Jepang Menyerah

Pasukan Jepang mengibarkan bendera putih. Sekitar 360 serdadu Jepang ditawan, sedangkan persenjataannya kemudian diserahkan kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan selanjutnya digunakan untuk memperkuat Tentara Keamanan Rakyat.

Plang Monumen Serbuan Kotabaru

Puncak peristiwa

7 Oktober 1945

Ketika rakyat Yogyakarta bergerak mengambil alih kekuasaan.

Pertempuran Kotabaru menjadi puncak usaha rakyat dan pejuang Indonesia untuk melucuti pasukan Jepang di Yogyakarta. Pertempuran tersebut tidak hanya bertujuan memperoleh persenjataan, tetapi juga menegaskan bahwa kekuasaan di Yogyakarta telah beralih kepada Negara Republik Indonesia.

“Tetenger ini didirikan untuk memperingatipuncak pengambilalihan kekuasaan dari pihak Jepang di Yogyakartadengan serbuan bersenjata dan pertumpahan darah,yang dikenal sebagai Pertempuran Kota Baru pada tanggal 7 Oktober 1945.”

Hasil dan dampak

Setelah Pertempuran

Penyerahan Pasukan Jepang

Pasukan Jepang di markas Kotabaru menyerah setelah pertempuran berlangsung selama beberapa jam. Sekitar 360 serdadu Jepang kemudian ditawan.

Persenjataan untuk Republik

Senjata Jepang diserahkan kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX, disimpan di Bangsal Pracimosono, dan selanjutnya digunakan untuk memperkuat Tentara Keamanan Rakyat.

Yogyakarta di Bawah Republik

Berakhirnya pertempuran menandai berakhirnya kekuasaan pemerintahan militer Jepang di Yogyakarta dan memperkuat kedudukan pemerintahan Republik Indonesia.

21 pejuang Indonesia gugur dalam Pertempuran Kotabaru.

Nama yang dikenang

Nama Mereka Tetap Dikenang

Nama para pejuang yang gugur dicantumkan pada dua plat Tetenger Serbuan Kotabaru. Sejumlah nama tersebut kemudian diabadikan menjadi nama jalan di kawasan Kotabaru dan sekitarnya.

  • ATMOSUKARTO
  • AHMAD DJAZULI
  • ACHMAD ZAKIR
  • ABU BAKAR ALI
  • DJOEMADI
  • DJUHAR NURHADI
  • FARIDAN M NOTO, BEKAS SO DAN TJO
  • HADI DARSONO
  • I DEWA NYOMAN OKA, INSPEKTUR POLISI
  • KALIPAN
  • NGADIKAN
  • SAREH
  • SADJIYONO
  • SABIRIN
  • SOENARYO
  • SOEROTO
  • SOEPADI
  • SOEHODO
  • SOEHARTONO
  • TRIMO
  • WARDANI

Penanda sejarah

Tetenger Serbuan Kotabaru

Penanda Sejarah dan Penghormatan

Tetenger Serbuan Kotabaru berada di dalam kompleks Asrama Korem di Kotabaru. Monumen ini diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada 7 Oktober 1988 untuk memperingati Pertempuran Kotabaru dan mengenang para pejuang yang gugur.

Bagian utama tetenger memuat prasasti mengenai pengambilalihan kekuasaan dari pihak Jepang. Dua plat di sisi monumen mencantumkan nama para pejuang yang gugur dalam pertempuran.

Diresmikan
7 Oktober 1988
Peresmian
Sri Sultan Hamengku Buwono IX
Lokasi
Kompleks Asrama Korem Kotabaru
Lihat Lokasi di Peta
Detail Tetenger Serbuan Kotabaru di kompleks Asrama Korem